Oleh Ustadz Yulian Purnama
Sedih rasanya melihat dua bangsa berseteru, saling membanggakan diri dan mencaci yang lain, bahkan ada yang menyuarakan peperangan, padahal keduanya adalah negeri kaum muslimin. Lebih miris lagi, perseteruan ini didasari oleh hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika demikian adanya, bagaimana mungkin umat Islam menjadi kuat dan kokoh?
Konsep Cinta dan Benci Dalam Islam
Dalam Islam dikenal konsep Wala wal Bara’ (cinta dan benci) yang merupakan konsekuensi dari iman yang benar. Inti ajaran Islam adalah mengajak ummat manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Konsekuensinya, seorang mukmin akan mencintai segala bentuk peribadatan dan ketaatan kepada Allah semata dan mencintai orang-orang yang melakukan demikian.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam juga bersabda: “Orang yang mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, memberi karena Allah, melarang sesuatu karena Allah, imannya telah sempurna” (HR. Abu Daud no. 4681, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)
Konsekuensi lain adalah kebalikan dari itu, seorang mukmin akan membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah dan maksiat, serta membenci orang-orang yang melakukan demikian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)
Ringkasnya, seorang mukmin sejati mencintai orang-orang yang menyembah Allah Ta’ala semata dan melakukan ketaatan kepada-Nya, baik ia berbeda suku, berbeda negara, berbeda warna kulit, berbeda bahasa, berbeda martabat. Dan seorang mukmin dalam hatinya memiliki rasa benci kepada orang yang menyembah kepada selain Allah dan membenci orang yang banyak melakukan maksiat, meskipun ia satu negara, meskipun ia satu bahasa, sama warna kulitnya, meskipun ia teman sepermainan, meskipun ia adalah orang tuanya, anaknya,atau keluarganya. Inilah konsep cinta dan benci dalam Islam.
Cinta dan Benci Orang Jahiliyah
Masa Jahiliyyah adalah masa sebelum di utusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Dan pada saat itu dunia diliputi kebodohan terhadap agama, kesesatan, penyimpangan dan kemusyrikan (Lihat Syarh Masa’il Jahiliyyah (8), Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan). Oleh karena itu Allah Ta’ala banyak mencap buruk orang-orang pada masa Jahiliyyah dalam Al Qur’an Al Karim. Misalnya firman Allah Ta’ala (yang artinya): “(Wahai kaum wanita), hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana orang-orang Jahiliyah yang terdahulu” (QS. Al Ahdzab: 33). Sehingga Islam melarang ummat-Nya berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang Jahiliyyah secara umum.
Lalu bagaimanakah konsep cinta dan benci yang diterapkan orang-orang Jahiliyyah? Cinta dan benci mereka dibangun atas dasar kesamaan suku dan bangsa. Ketika dua suku berseteru, mereka membenci orang-orang yang masih satu suku bangsa dan membenci orang-orang yang berbeda suku bangsa. Sebagaimana diceritakan sebuah hadits:
“Suatu ketika di Gaza, (dalam sebuah pasukan) ada seorang dari suku Muhajirin mendorong seorang lelaki dari suku Anshar. Orang Anshar tadi pun berteriak: ‘Wahai orang Anshar (ayo berpihak padaku)’. Orang Muhajirin tersebut pun berteriak: ‘Wahai orang Muhajirin (ayo berpihak padaku)’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mendengar kejadian tersebut, beliau bersabda: ‘Pada diri kalian masih terdapat seruan-seruan Jahiliyyah’. Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah mendorong seorang dari suku Anshar’. Beliau bersabda: ‘Tinggalkan sikap yang demikian, karena yang demikian adalah perbuatan busuk’ ” (HR. Al Bukhari no.4905)
Perhatikan dengan baik hadits yang mulia ini. Muhajirin dan Anshar adalah dua kaum yang mulia yang dipuji oleh Allah Ta’ala. Namun tatkala mereka menyerukan fanatisme kesukuan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyatakan bahwa sikap tersebut adalah perangai Jahiliyah, bahkan beliau melaknat perbuatan tersebut. Bagaimana lagi dengan kita?
Jangan Berpecah Belah
Perpecahan umat Islam adalah sesuatu yang tercela dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS. Al Imran: 104). Dan sebaliknya, Islam memerintahkan ummat-Nya untuk bersatu-padu. Dan perintah untuk bersatu ini ditujukan kepada setiap Muslim di seluruh dunia, tidak hanya antar ummat Muslim di satu negara saja. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Al Imran: 102-103)
Dalam ayat di atas, jelas sekali bahwa perintah untuk bersatu ditujukan untuk setiap Muslim, bukan hanya muslim yang sebangsa saja. Oleh karena itu, perselisihan antar umat Islam baik yang satu negara ataupun berbeda negara adalah sumber kebinasaan. Maka bersatulah wahai kaum muslimin di negara manapun engkau berada!
Sumber: http://artikelassunnah.blogspot.com/2010/08/ketika-indonesia-malaysia-berseteru.html
Cengeng Bukan Persoalan Emosi, Tapi Kimiawi Tubuh Ilustrasi
Penelitian Terbaru:
Cengeng Bukan Persoalan Emosi, Tapi Kimiawi Tubuh Ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, ROTTERDAM--Jangan buru-buru menvonis pasangan Anda cengeng, ketika sama-sama menonton film di bioskop dan dia berlinang air mata saat adegan sedik diputar. Perbedaan neurotransmiter mungkin menjelaskan mengapa beberapa orang lebih rentan untuk menangis dalam situasi emosional tertentu daripada yang lain.
Tim Frederick van der Veen dari Erasmus Medical Centre di Rotterdam, Belanda, memberi 25 relawan perempuan dosis tunggal paroxetine, sebuah inhibitor SSRI yang meningkatkan kadar serotonin sebentar, atau memberi efek plasebo. Empat jam kemudian mereka diminta untuk menonton salah satu dari dua film emosional: Brian's Song, di mana sang pahlawan meninggal karena kanker, atau Once Were Warriors,, tentang kekerasan domestik, dan untuk menunjukkan apakah, dan sejauh mana adegan tertentu telah membuat mereka menangis.
Pada hari lain, para wanita menyaksikan film kedua dengan perlakuan yang ditukar: bila hari sebelumnya mereka yang dinaikkan kadar sorotoninnya, maka kali ini kelompok kontrol yang diberi perlakuan itu. "Tak masalah film mana mereka lihat, kita melihat efek yang kuat dan konsisten dari paroxetine," kata van der Veen, yang mempresentasikan hasil di Forum Neuroscience Eropa di Amsterdam minggu lalu. "Kadar serotonin yang lebih tinggi menyebabkan orang lebih gampang menangis."
Meskipun SSRI digunakan untuk mengobati depresi, efek mereka meningkatkan suasana hati biasanya tidak muncul untuk sekitar enam minggu. Perempuan tersebut melaporkan tidak ada perubahan dalam suasana hati dalam studi saat ini. "Kami melihat efek langsung dari dosis tunggal paroxetine," kata van der Veen, yang menambahkan bahwa temuan ini bisa membantu menjelaskan mengapa beberapa orang melaporkan tumpul emosi saat mengambil SSRI.
"Pemahaman kita tentang neurobiologi menangis cukup terbatas," kata Christopher Lowry, seorang peneliti serotonin di University of Boulder di Colorado. "Masuk akal bahwa mekanisme menangis melibatkan serotonin."
Van der Veen sekarang tengah menggagas penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah perbedaan genetik dalam produksi serotonin mempengaruhi kecenderungan untuk menangis. Hasilnya, bisa jadi gampang menangis adalah "penyakit" turunan. Wah...wah....
Sumber: http://www.republika.co.id /berita/trendtek/sains/10/ 07/27/126906-penelitian-te rbaru-cengeng-bukan-persoa lan-emosi-tapi-kimiawi-tub uh
Cengeng Bukan Persoalan Emosi, Tapi Kimiawi Tubuh Ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, ROTTERDAM--Jangan buru-buru menvonis pasangan Anda cengeng, ketika sama-sama menonton film di bioskop dan dia berlinang air mata saat adegan sedik diputar. Perbedaan neurotransmiter mungkin menjelaskan mengapa beberapa orang lebih rentan untuk menangis dalam situasi emosional tertentu daripada yang lain.
Tim Frederick van der Veen dari Erasmus Medical Centre di Rotterdam, Belanda, memberi 25 relawan perempuan dosis tunggal paroxetine, sebuah inhibitor SSRI yang meningkatkan kadar serotonin sebentar, atau memberi efek plasebo. Empat jam kemudian mereka diminta untuk menonton salah satu dari dua film emosional: Brian's Song, di mana sang pahlawan meninggal karena kanker, atau Once Were Warriors,, tentang kekerasan domestik, dan untuk menunjukkan apakah, dan sejauh mana adegan tertentu telah membuat mereka menangis.
Pada hari lain, para wanita menyaksikan film kedua dengan perlakuan yang ditukar: bila hari sebelumnya mereka yang dinaikkan kadar sorotoninnya, maka kali ini kelompok kontrol yang diberi perlakuan itu. "Tak masalah film mana mereka lihat, kita melihat efek yang kuat dan konsisten dari paroxetine," kata van der Veen, yang mempresentasikan hasil di Forum Neuroscience Eropa di Amsterdam minggu lalu. "Kadar serotonin yang lebih tinggi menyebabkan orang lebih gampang menangis."
Meskipun SSRI digunakan untuk mengobati depresi, efek mereka meningkatkan suasana hati biasanya tidak muncul untuk sekitar enam minggu. Perempuan tersebut melaporkan tidak ada perubahan dalam suasana hati dalam studi saat ini. "Kami melihat efek langsung dari dosis tunggal paroxetine," kata van der Veen, yang menambahkan bahwa temuan ini bisa membantu menjelaskan mengapa beberapa orang melaporkan tumpul emosi saat mengambil SSRI.
"Pemahaman kita tentang neurobiologi menangis cukup terbatas," kata Christopher Lowry, seorang peneliti serotonin di University of Boulder di Colorado. "Masuk akal bahwa mekanisme menangis melibatkan serotonin."
Van der Veen sekarang tengah menggagas penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah perbedaan genetik dalam produksi serotonin mempengaruhi kecenderungan untuk menangis. Hasilnya, bisa jadi gampang menangis adalah "penyakit" turunan. Wah...wah....
Sumber: http://www.republika.co.id
Langganan:
Komentar (Atom)




